Women Techmakers GDG Jogjakarta

Ini Alasan Kenapa Perempuan Harus Terlibat di Industri IT

Ini Alasan Kenapa Perempuan Harus Terlibat di Industri IT – Industri teknologi saat ini tidak dipungkiri mulai mengubah kehidupan masyarakat saat ini. Lihat saja startup teknologi seperti Gojek yang mengubah kebiasaaan moda trasportasi ojek yang biasanya untuk menggunakan jasa ojek harus menggunakan cara tradisional seperti harus mengunjungi ke pangkalan, sekarang cukup memesannya dengan aplikasi smartphone maka ojek terdekat akan langsung menghampiri dan mengantarkan sampai tujuan.

Hal seperti ini memaksa semua orang untuk mulai menggunakan teknologi. Tidak hanya dalam menggunakannya saja teknologi juga dibutuhkan industri dalam mendukung bisnisnya. Saat ini yang terlibat dalam membangun industri teknologi yang mendominasi banyaklah dari kaum laki-laki, namun hanya sedikit perempuan yang terlibat.

Hari Sabtu yang lalu (9/4/16) GDG Jogjakarta mengadakan event Google Women Techmakers. Melalui Women Tachmakers, Google memberi wadah dan menfasilitasi para perempuan untuk membuat komunitas mereka sendiri. Dengan adanya Women Techmaker diharapkan akan banyak perempuan lebih mengenal dan mengetahui lebih jauh tentang industri teknologi sehingga mereka bisa ikut andil dan berpartisipasi didalamnya. Beberapa pembicara yang hadir yaitu Mugi Rahayu Wilujeng dari Wemary, Danis Hilma Lathifah dari Muncak dan Ika Kartika Sari dari Go-Jek.

Women Techmakers GDG JogyakartaWomen Techmakers GDG Jogyakarta

Mugi Rahayu Wilujeng yang akrab dipanggil Ajeng merupakan CEO dari Wemary yang website-nya bisa diakses di wemary.com. Wemary sendiri merupakan startup teknologi yang berbasis di Yogyakarta. Wemary membantu pasangan yang ingin menikah dengan membuatkan online invitation dengan mudah tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Website online invitation tersebut otomatis langsung tersinkronisasi dengan sosial media, Google Maps, Calendar serta konfirmasi kehadiran RSVP. Sedangkan bagi para tamu undangan yang tidak dapat hadir pada acara resepsi dapat memesan kado yang nanti akan dikirimkan langsung oleh tim Wemary ke lokasi pernikahan.

Ajeng sendiri menikah sejak umur 22 yang tentu memiliki pengalaman kenapa ia membangun Startup Wemary. Kesulitan yang dihadapi ketika merencanakan pernikahan. Dalam membangun Wemary, Ajeng tidak sendiri tetapi juga dibantu oleh tim. Ajeng menegaskan kenapa pentingnya membangun tim dan memilih co-founder yang tepat dan memiliki misi yang sama. Ia sendiri tidak memahami koding tetapi ia mencari orang yang memiliki kemampuan tersebut. Ide yang ia miliki ia sampaikan pada tim agar mimpinya bisa terealisasi. Eksekusi merupakan hal terpenting agar ide tidak hanya menjadi sebuah ide.

Danis Hilma Lathifah merupakan CEO dari Muncak yang juga Startup yang berasal dari Yogyakarta. Muncak akan melakukan pendampingan dan menuntun kepada para pendaki pemula apa yang harus dipersiapkan seperti pengetahuan tentang mendaki, aturan yang mesti dipatuhi, bagaimana dengan kondisi fisik pendaki, peralatan dan logistik seperti makanan yang mesti dibawa.

Danis mengatakan sejak film 5 cm tayang di bioskop. Gunung Sameru yang biasanya hanya 200-500 pendaki perbulannya sekarang naik menjadi 8000 pendaki tiap bulannya. Dan yang menjadi masalahnya sekarang para pendaki pemula tersebut meninggalkan sampah masing-masing sebanyak 0,5 kg. Bayangkan jika ada 8000 pendaki yang masing-masing meninggalkan sampah. Ternyata masalah tersebut tidak hanya di gunung Sameru tetapi beberapa gunung lain yang ada di Indonesia.

Danis menerangkan bahwa mendaki itu tidak semudah seperti dalam film ada banyak hal yang mesti dipersiapkan. Tidak jarang ada pendaki yang meninggal karena kecelakaan karena kurangnya persiapan. Danis berharap dengan adanya Muncak akan membantu meningkatkan kesadaran para pendaki gunung untuk memahami pentingnya memahami standar operasional pendakian yang aman.

Berbeda dengan Ajeng dan Danis yang merupakan CEO dari sebuah Startup. Ika Kartika Sari merupakan seorang Product Engineer Gojek di Yogyakarta. Ika menangani core backend Gojek yang menggunakan bahasa pemrograman Java.

Ika mengatakan bahwa ada 26% perempuan sebagai profesional IT pada tahun 2013, ada 20% developer perempuan didunia, di Google sendiri 30% karyawannya adalah perempuan, dan di Silicon Valley sendiri ada 12% yang terlibat dalam industri teknologi. Ika mencontohkan COO Facebook Sheryl Sandberg dan CEO Yahoo Marissa Mayer merupakan perempuan di Silicon Valley yang terlibat di industri teknologi.

Women Techmakers GDG Jogjakarta

Memang saat ini profesi perempuan sebagai developer dianggap tabu. Apalagi opini masyarakat yang mengatakan kalau perempuan tidak lazim bekerja di industri IT, perempuan lebih cocok bekerja di dapur. Padahal ada banyak peluang bagi perempuan yang mau terlibat di industri IT. Ika menjabarkan peluang perempuan yang mau terlibat di industri IT

  • Tidak memerlukan fisik yang tinggi, kuat atau besar karena yang diperlukan adalah kemampuan berpikir.
  • Memicu untuk terus belajar karena di industri teknologi yang begitu cepat.
  • Tidak terbatas ruang dan waktu. Kesempatan belajar bisa dimana aja apalagi semuanya ada di internet
  • Kesempatan kerja yang luas. Perempuan tidak harus keluar rumah atau pergi ke kantor tetapi bisa mengambil job sebagai Freelancer.
  • Mudah dalam berwirausaha tidak memerlukan modal yang besar, semuanya bisa dimulai dari rumah.
  • Berkontribusi untuk Indonesia.
  • Fleksibel ruang dan waktu, perempuan bisa bekerja sambil merawat keluarga dirumah.

Pada acara ada seorang peserta menanyakan kenapa perempuan dibutuhkan di industri IT. Padahal developer laki-laki saat ini mendominasi dan itu sudah cukup. Ika mengatakan ada satu yang membuat perempuan dibutuhkan terutama developer yaitu karena ketelitiannya. Perempuan lebih teliti dibandingkan dengan laki-laki.

Women Techmakers GDG Jogjakarta

Bagaimana dengan ladies? Apakah kamu tidak tertarik dengan banyak peluang tersebut?

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *